Kisah
tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola
mata yang indah dan hati yang lugu dan polos. Dia adalah seorang yatim
piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata
terakhir yang ia tinggalkan adalah aku pernah datang dan aku sangat
penurut. Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah
memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari
perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi
tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan
dia rela melepaskan pengobatannya.
Melihat
anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai
melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka
kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi
tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka
kamu juga ikut apa yang saya
makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yuan.
Ini adalah
kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak,
tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu
memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil,
anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat
penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan
bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga
sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering
sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Di tengah ketakutan dan
kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.
Yu Yuan
yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun,
dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak
nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia
sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang
orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan
dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang
penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.
Pada saat
dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus
giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat
papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak
pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal
yang lucu yang terjadi di
sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
sekolahnya diceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.
Setiap
kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak
seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup
bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.
Mulai dari
bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi, saat Yu
Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh
dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai
cara, tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut sehingga papanya membawa
Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu
juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai
bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk
membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.
Begitu tiba di rumah
sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu
Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi
hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus
mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak, kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk
menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh
menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar
dari hidung Yu Yuan.
Melihat
mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu
Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air
mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa
saya ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu
Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang
berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini,
biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."
Pada
tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal
huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang
berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan
dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang ke
rumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu
meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan
berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak
ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto ini". Hari kedua,
papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju
baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya
memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.
Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba
di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang
untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga
tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.
Kalau
bukan karena
seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan
Bao,
Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang
ditiup angin. Setelah
mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan
kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan
secara detail.
Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan
akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang
yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota
sampai
satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke
seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini
menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.
Hanya
dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia
saja telah mengumpulkan 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi.
Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua
orang.
Setelah
itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir
dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah
ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan
juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.
Ada
seorang teman di e-mail bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta,
saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya
mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar
dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."
Hari kedua
saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan
sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget,
dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik".
Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen di mana Yu
Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan
banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan
melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah
mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana.
Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar
baik dari kesembuhan Yu Yuan.
Tetapi
efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan,
apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan
jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut, fisik Yu Yuan semakin
lemah.
Pada
tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante,
kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada
wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, "karena mereka semua
adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante,
saya juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab,
"Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu Yuan dari bawah
bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan.
"Tante, ini adalah surat wasiat saya."
Fu Yuan
kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut, ternyata Yu Yuan telah
mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak
yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di
atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam
bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat
tinggal tante Fu Yuan.
Dalam satu
artikel itu, nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan
singkat tante wartawan. Di belakang ada enam belas sebutan dan ini adalah
kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,....... Dan dia
juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-
orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.
"Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga
papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada
sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah, setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu
dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas
sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis
yang membasahi pipinya. Aku pernah
datang dan aku sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir
Yu Yuan.
Di
kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan
menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka
cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang
pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah
malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu.
Terbanglah..............." demikian kata-kata dari seorang
pemuda tersebut.
Pada
tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di
depan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar
kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh
Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan
melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari
berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.
Sesuai
pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan
kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima
bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu,
Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua
berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang
berjuang melawan kematian.
Pada
tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di
rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang
pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima
bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang
melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga
akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat
patuh".
Kesimpulan:
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.
Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.
No comments:
Post a Comment